Kelompok Kerja Informal

Diposting pada

Kelompok Kerja Informal – Untuk tujuan – tujuan buku ini, istilah “work granps” ke lompok kerja akan digunakan untuk menggambarkan setiap kelompok yang ada dalam sebuah organisasi. Maka itu kelompok – kelompok kerja dapat dibagi menjadi kelompok kerja formal dan informal.

Kelompok Kerja Informal

Kelompok – Kelompok Kerja Formal Kontra Informal

Kelompok – kelompok kerja formal  ditentukan oleh hubungan yang secara resmi diperintahkan antara pegawai- pegawai. Kelompok – kelompok kerja resmi  biasanya di tunjukkan dalam peta organisasi.

Dua jenis kelompok – kelompok kerja formal adalah regu komando dan regu –regu tugas. Kepala departemen yang melapor kepada seorang wakil presidan, merupakan kelompok komando lainnya. Sebuah regu tugas dibentuk oleh para pegawai, yang bekerja sama agar dapat menyelesaikan suatu tugas kerja yang di berikan oleh organisasi.

Sebuah panitia sementara adalah sebuah contoh yang baik dari sebuah regu tugas, Kelompok – kelompok kerja informal adalah kelompok yang terbentuk dalam organisasi – organisasi sebagai hasil dari hubungan dan interaksi perorangan dan kelompok – kelompok yang berhubungan dari orang – orang,  yang bekerja dalam kelompok – kelompok kerja formal dari organisasi.

Kelompok – kelompok informal biasanya tidak diakui dengan resmi oleh organisasi.

Baca Juga Faktor Pendorong Terjadinya Perubahan Sosial Budaya

Mengapa kelompok – kelompok kerja informal itu ada.

Kerja adalah suatu pengalaman kepada pegawai – pegawai untuk memenuhi banyak kebutuhan. Kalau orang banyak dikumpulkan bersama- sama dalam sebuah kantor atau pabrik, maka merekapun berinteraksi dan bekeja sama dalam kewajiban – kewajiban pekerjaan formal.

Tentu saja timbul persahabatan dari hubungan-hubungan yang terus-menerus ini dan dari bidang – bidang kepentingan bersama. Kepentingan  – kepentingan timbale balik, persahabatan, dan perlunya.

memunuhi kebutuhan – kebutuhan sosial merupakan tiga buah sebab, yang menolong untuk menjelaskan pembentukan  kelompok – kelompok kerja informal maupun keinginan para pegawai untuk menjadi anggota dari kelompok – kelompok seperti itu.

Faktor – Faktor kelompok informal

Kalau kelompok – kelompok informal sudah terbentuk, berangsur-angsur kelompok – kelompok itu berkembang sedemikian, sehungga ia terus hidup dengan sendirinya, terpisah dan berbeda dengan proses – proses kerja, dalam mana mereka berasal.

Perkembangan kelompok informal di pandang sebagai proses yang bergerak sendiri. Setiap perorangan, yang secara formal dikeratkan untuk berinteraksi satu sama lain, dengan segerajuga membangun sentiment – sentiment yang menguntungkan terhadap orang – orang tertentu.

sentiment – sentiment ini dipakai untuk mempermudah interaksi – interaksi dan kegiatan – kegiaatan di atas dan dibalik sentiment –sentiment, yang dikehendaki oleh penguraian pekerjaan “job description”, seperti makan siang bersama-sama, membahas persoalan – persoalan , dan sebagainya.

Persetujuan dan kelompok-kelompok kerja informal.

Conformity ialah mengacu kepada tingkat, sampai di mana anggota – anggota kelompok menerima dan menanti norma –norma kelompok itu. Persetujuan dalam situasi, yang mungkin di pandang sebagai suatu perilaku yang mungkin di pandang sebagai suatu perilaku yang menyimpang dalam situasi  yang lain, karena itu, persetujuan ditentukan menurut situasinya. Agaknya  variable yang terpenting dalam suatu keadaan adalah hubungan perorangan itu dengan orang – orang lain dan hubungan – hubungan mereka satu sama lain.

Keuntungan

keuntungan potensial dari kelompok – kelompok kerja informal.

  1. Kelompok kerja informal bercampur dengan organisasi untuk membuat suatu system yang dapat digunakan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan.
  2. Kelompok kerja informal meringankan beban pekerjaan bagi manajer formal dan mengisi beberapa dari kekosongan – kekosongan dalam kemampuan – kemampuan manajer.
  3. Kelompok – kelompok kerja informal memberikan kepuasan dan stabilitas kepada organisasi.
  4. Kelompok kerja informal memberikan salurankomunikasi  yang bermanfaat dalam organisasi.
  5. Kelompok kerja informal, yang sekarang terdapat, mendorong para manajer untuk merencanakan dan bertindak lebih hati – hati daripada seandainya tidak ada kelompok itu.

Faktor

Faktor kunci dalam berurusan dengan kelompok – kelompok kerja informal.

  1. Partisipasi berkelompok – kelompok adalah sumber pokok dari pemusatan kebutuhan sosial bagi para pegawai.
  2. Kelompok – kelompok informal mencoba melindungi anggota – anggotanya terhadap ancaman – ancaman yang dipahami.
  3. Kelompok – kelompok mengembangkan cara – cara komunikasi untuk member informasi yang dikehendaki anggota- anggotanya. Jika manajemen tidak memberikan informasi itulah yang mengusahakannya.
  4. Kelompok – kelompok formal dan informal memperoleh status dan prestise dalam sebuah organisasi. Mungkin kelompok – kelompok menggunakan status dan prestise mereka sebagai pangkalan kekuatan untuk mempengaruhi yang lain – lain dalam organisasi itu.
  5. Kelompok – kelompok  mengembangkan dan menegakkan norma – norma untuk prilaku anggota-anggotanya. Norma-norma kelompok mungkin menunjang manajemen atau mungkin bekerja bertentangan dengan tujuan – tujuan manajemen.

demikianlah artikel diatas dari ruangbimbel.co.id. semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. terima kasih