Manajer Sebagai Pembuat Keputusan : Teori, Proses, Analisa

Diposting pada

Manajer Sebagai Pembuat Keputusan – Sebagai ciri umum seorang manajer adalah bahwa ia seorang pembuat keputusan. Seorang manajer harus memutuskan tujuan-tujuan yang hendak dikerjakan. Untuk mencapai tujuan – tujuan ini, manajer harus memutuskan tindakan-tindakan khusus apa yang perlu, cara-cara baru apa yang dapat diperkenalkan, dan apa yang harus dibuat untuk mempertahankan hasil kerja yang memuaskan.

Pengambilan keputusan berlangsung dalam setiap bagian organisasi. Membuat keputusan adalah memilih suatu alternatif dari dua pilihan atau lebih, untuk menentukan suatu pendapat atau perjalanan suatu tindakan. Ia adalah peristiwa psikis dan kreatif, dalam mana pikiran, perasaan dan pengetahuan di himpun bersama-sama untuk sebuah aksi.  Basanya ia mencakup ketidakpastian.

Banyak teknik-teknik yang tersedia untuk mengevaluasi pilihan-pilihan. Teknik-teknik itu bernadakan mulai dari apa yang berbau terkaan sampai analisa-analisa matematis yang amat canggih. Pilihan tergantung dari latar belakang dan pengetahuan sang manajer serta situasi khusus pengambilan keputusan.Yang berikut ini termasuk dalam pilihan – pilihan yang sering diambil.

Manajer Sebagai Pembuat Keputusan

Analisa marjinal.

Teknik memandingkan biaya ekstra dan penghasilan yang berasal dari penambahan sebuah unit lagi. Titik maksimasi keuntungan adalah volume dimana bagi unit terakhir yang di tambahkan, pendapatan tambahan sama besarnya dengan biaya ekstra. Pada setiap volume yang lebih kecil, pendapatan marjinal melampaui ongkos marjinal dan pada setiap volume yang lebih besar, maka ongkos marjinal melampaui pendapatan maejinal.

Teori Psikologi.

Banyak Persoalan yang harus di putuskan seorang manajer, bersifat tidak ekonomis. Keputusan mengenai luasnya sebuah kantor, misalnya, mungkin saja dipengaruhi oleh nilai-nilai psikologis. Contoh-contoh lain mencakup individu seorang anggota manajemen, berpegang teguh pada perangkat tradisi-tradisi, yang dijunjung tinggi oleh para manajer tertinggi, atau keinginan akan kebesaran untuk kebesaran semata-mata.

Intuisi-Bisikan hati.

Pembuatan keputusan yang didasarkan pada intuisi, bercirikan penggunaan “perasaan-perasaan batin” orang yang membuat keputusan . Mungkin hal itu sejenis indra keenam, perasaan yang dalam mengenai situasi, atau keinsafan yang tak terterangkan dalam suatu keadaan.Kadang-kadang intuisi itu tak merupakan suatu perasaan, yang hamper seketika itu saja timbulnya, bahwa suatu tindakan pastilah menuju kea rah hasil –hasil terstentu yang sudah dinyatakan.

Pengalaman

Hubungan erat dengan dan pengertian mengenai persoalan memerlukan pengalaman. Pengalaman memberikan bimbinga, menolong untuk membeda-bedakan, dan membantu mengeneralisir keadaan masa lalu. Pengetahuan Praktis digunakan, dan biasanya diikuti oleh penerimaan keputusan itu oleh yang lain-lain.

Mengikuti sang pemimpin

Sejumlah besar keputusan-keputusan dibuat dengan mengikuti, dan, dalam beberapa hal, meniru kembali keputusan yang sudah dibuat oleh pemimpin.

Percobaan

“Coba dulu pilihan itu dan lihat apa yang terjadi”, dapat kah berdaya guna dalam memutuskan jalan apa yang akan ditempuh. Ini merupakan dasar pembuatan keputusan yang biasa digunakan dalam penyelidikan ilmiah dan dalam rencana produk baru dan pekerjaan pembangunan.

Analisa

Keputusan apakah yang akan diambil, dalam keadaan tertentu, dan dapat diambil dengan memecah-mecah persoalannya atas berbagai komponennya dan meneliti masing-masing komponen secara terpisah, dan juga dalam hubungannya dengan komponen-komponen lain.

Metode-metode Kuantitatif.

Di tahun akhir-akhir ini terdapat suatu kecendrungan yang bertambah besar kea rah penggunaan metode-metode kuantitif dalam pembuatan keputusan-keputusan manajemen.

PEMBUATAN KEPUTUSAN

Siapa yang seharusnya membuat keputusan-keputusan khusu dalam manajemen? Suatu keputusan, tertentu seharusnya dibuat oleh seorang, pada tingkat organisasi yang paling rendah, yang mempunyai kemampuan, keinginan dan pintu masuk bagi informasi bersangkutan, dan yang berada dalam posisi untuk mempertimbangkan factor-faktor tanpa memihak-mihak. Tidak selalu mudah untuk menentukan, siapa orangnya. Karena itu , adalah biasa untuk mendefenisikan jenis-jenis urusan yang dapat di putuskan seorang manajer.

Keputusan di buat atas dasar : (a) seorang individu, maupun (b) sebuah kelompok: Yang pertama biasa dilakukan, selama keputusan itu sederhana, dan semua alternative dipahami sepenuhnya. Membuat keputusan individual adalah memenuhi peran penting dari apa yang seharusnya dilakukan seorangmanajer. Keadaan –keadaan darurat secara khas diputuskan atas dasar perorangan. Keadaan-keadaan darurat selalu saja timbul, tetapi tidak seharusnya membenarkan pengambilan keputusan darurat sebagai cara kerja yang umum di terima.

Apakah akan membuat atau mengundurkan suatu kuputusan darurat terutama sekali ditentukan oleh akibat – akibat dari tidak  mengambik keputusan.

Demikianlah artikel diatas dari ruangbimbel.co.id. semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Terima Kasih