Bandung Lautan Api (23 Maret 1946)

Diposting pada

Sejarah Bandung Lautan Api

Bandung Lautan Api – Pasukan tentara Sekutu  memasuki Kota Bandung pada bulan Oktober 1945. Saat itu para pejuang  Bandung tengah sibuk  melaksanakan pemindahan kekuasaan Jepang dengan merebutsenjatanya, Tentara datang Sekutu yang baru datang itu langsung mengeluarkan ultimatum.

Isinya, mereka meminta paksa semua senjata yang diperoleh dari tentara Jepang. Sebab itu sekutu menuntut agar kota Bandung bagian utara dikosongkan pihak Indonesia selambat – lambatnya tanggal 29 November 1945. Perintah itu di keluarkan dengan dalil  menjaga keamanan Kota Bandung.

Bandung Lautan Api

Rakyat Bandung tidak menggubris permintaan tersebut. Setiap jengkal tanah akan dipertahankannya dan tidak akan diberikan dengan percuma. Pihak sekutu amat kecewa dengan sikap rakyat Bandung. sebabnya, pecahlah pertempuran di Pasar Baru, Lengkong Besar, Cicadas, Andir dan sekitar Gedung Sate.

Demi mengamankan tugasnya, Sekutu mengeluarkan ultimatum kepada pada 23 Maret 1946. Mereka menuntut supaya Bandung dikosongkan militer dan pemerintah RI paling lambat pukul 24.00 menjelang 24 Maret 1946. Maka Sehari sebelumnya datanglah Perintah yang sama kepada pemerintah RI di Jakarta, namun, Markas TRI di Yogyakarta memerintahkan agar Kota Bandung tidak dikosongkan. Rakyat Bandung  menjadi bimbang. Sesudah dipertimbangkan secara matang, dengan berat hati  TRI dan rakyat Bandung mematuhi perintah dari Jakarta. Sebelum meninggalkan kotanya, para pejuang melancarkan serangan kearah kedudukan – kedudukan Bandung seperti. Sekutu.Selain itu, mereka membumihanguskan Kota Bandung bagian selatan. Jadilah Bandung Lautan api.

Agresi Militer Belanda ke Republik Indonesia

  • Agresi Militer I Belanda  (21 Juli 1947 – 4 Agustus 1947)

Pada tanggal 21 Juli 1947 sekutu Belanda melakukan serangan secara serentak terhadap daerah – daerah republik. Serangan ini diarahkan ke pulau jawa dan Sumatra. Serangan militer tersebut dikenal sebagai Agresi Militer Pertama sekutu Belanda. Sementara itu, pihak Belanda menyebut aksi agresinya sebagai  “Operasi Produk” karena serangan  pertama yang dilancarkan ditujukan pada sasaran yang bersifat ekonomis, Agresi Belanda berada di bawah pimpinan seorang mantan perwira KNAIL , Letnan Jederal Simon M. Spoor.

Dalam waktu singkat, Belanda berhasil menguasai Jakarta dan kota – kota penting di jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Belanda tidak menemui kesulitan yang bearti dalam menjalankan agresi militer pertama. Hal ini desebabkan oleh hal – hal berikut :

  1. Belanda memiliki senjata yang lengkap dan modern, sedangkan tentara republic hanya menggunakan sisa – sisa senjata dari jepang dan belanda yang sedikit dan using.
  2. Pasaukan republic menjadi terpencar – pencar sebagai akibat agresi belanda.
  3. Pasukan republic banyak kehilangan koordinasi dengan kestuan atau pimpinannya setelah jalur komunikasi diputus belanda.
  4. Sebagian besar rakyat belum sepenuhnya dapat bekerja sama dan mendukung tentara republic untuk bersama – sama menghalau musuh.

Dalam perkembangan selanjutnya, tentara republic mulai dapat melakukan konsolidasi dan berusaha membangun daerah – daerah pertahanan baru. Sistem gerilya diterapkan untuk menggantikan system pertahanan linear yang kurang efektif. Dengan taktik gerilya, kekuasaan dan gerakan – gerakan Belanda dibatasi hanya di kota – kota besar, sedangkan di luar itu kekuasaan berada di tangan

Agresi militer Belanda pertama mengundang reaksi dunia. India dan Autralia mengajukan usul agar masalah Indonesia dibicarakan dalam Dewan Keamanan PBB. Usul ini diterima baik oleh PBB sehingga pada 1 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian tembak – menembak. Setelah itu, Indonesia dan Belanda mengumumkan gencatan senjata. Selanjutnya, sejak tanggal 4 Agustus 1947 berakhirlah agresi militer  Belanda yang pertama.

  • Agresi  Militer Belanda Kedua (19 Desember 1948 – 28  Januari 1949)

Pada 19 Desember 1948 Belanda di bawah koordinasi Dr. Bell melancarkan agresi militer kedua. Terus pasukan lintas udara yang dimilikinya, Belanda terlebih dahulu menyerang pangkalan udara Maguwo. Setelah Maguwo dikuasai, sasaran beralih langsung ke ibu kota RI di Jogyajart. Setelah itu Pesawat – pesawat terbang  Belanda segera menghujani jalan, jembatan, dan barak – barak militer dengan bom dan roket.

Dalam Serangan itu Belanda berhasil menawan presiden Soekarno di terbangkan ke  Prapat (dekat Danau Toba) dan kemudian ke bangka. Setelah itu Belanda menyiarkan berita ke seluruh dunia yang menyatakan bahwa RI sudah tidak ada dan perlawanan TNI sama sekali tak bearti Propaganda semacam itu jelas menyudutkan kedudukan RI di mata Dunia Internasional.

Baca Juga Teknik Presentasi : Pengertian, Tujuan, Manfaat dan Langkah-langkahnya

Kendati demikian sebelum para para pemimpin republic ditawan, Presiden Soekarno masih sempat memimpin siding cabinet secara singkat. Hasil siding cabinet tersebut, yakni sebagai berikut :

  1. Pemerintah republic Indonesia memberikan mandate melalui radiogram kepada Menteri Kemakmuran Mr. Syafruddin Prawiranegara langung membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit tinggi, Sumatra Barat.
  2. Presiden dan wakil presiden tetap tinggal di dalam kota agar tetap dekat dengan KTN dengan risiko ditawan Belanda.
  3. Pimpinan TNI akan menyingkir ke luar kota  untuk melaksanakan perang gerilya dengan membentuk wilayah komando  di jawa dan Sumatra.

Demikianlah artikel diatas dari ruangbimbel.co.id semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Terima kasih